Pelantikan Barack Hussein Obama sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat memang layak mendapatkan perhatian Global. Sebagai orang pertama dari sebuah negara dan pemerintahan yang begitu berdaya dalam begitu banyak aspek kehidupan global, plus memangku berbagai privilegi luar biasa menurut sistem pemerintahan negaranya, presiden kulit hitam pertama dalam sejarah kepresidenan Amerika Serikat ini memang sangat istimewa, termasuk dalam kekuasaan dan pengaruhnya terhadap tatanan global.
Banyak isu konfrontatif dihembuskan oleh golongan yang anti-zionis dan anti-semit tentang presiden yang terkesan pro grass root ini. Ada yang mengedepankan bahwa bahwa ia (sebagaimana tersurat dan tersirat dalam beberapa pernyataannya) 100% pembela zionisme, ada yang mengekspose ritual Yudaisme yang dilakukannya, bahkan yang lebih asyik lagi, ulasan tentang konspirasi di balik karir politiknya sampai menjadi presiden AS.
Saya bukannya tidak tahu semua itu, mana yang benar dan sebagian benar, juga mana yang salah dan sebagian salah. Tetapi, saya juga melihat manusianya lebih dulu. Dan Mr. Obama, like it or not, memang bukan manusia yang dangkal atau kerdil.
Dari semua data yang kami peroleh setelah dua tahun mengamati ‘si hitam yang kharismatik’ ini, ada satu konsistensi yang sangat kuat, bahwa ia bervisi ‘new age’. Bukan new age dalam pengertian teologis seperti yang populer di kalangan rohaniwan pada awal 1990-an, melainkan new age dalam pengertian literal era baru yang humanis, fraternal dan egaliter, mengatasi segala kekerdilan yang primordial. Sebuah konsep yang indah dan telah menjadi obsesi semua yang berkesadaran tinggi dalam sejarah kemanusiaan.
Jika Barack Obama sungguh-sungguh bertekun mewujudkan visi itu, saya tidak keberatan Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adidaya di muka bumi ini.
Tetapi, akankah ia meneguhi komitmennya, menepati amanahnya? Siapa yang tahu ‘ya’ atau ‘tidak’-nya? Bukankah kebijaksanaan itu diukur dari buah-buahnya? Maka kita tunggu saja bagaimana motif yang indah itu mewujud dalam realita, tentu saja tanpa kita perlu mengeruhi perasaan dan pemikiran kita dengan berbagai prasangka buruk.
Congratulation to the 44th president of the United States of America, Barack Hussein Obama. May God bless him. Amen.