BALTHASAR’S ODYSSEY (Nama Tuhan yang Keseratus)
Penulis : Amin Maalouf
Penerbit : Serambi
“Mengapa Paman memberikan buku itu padanya? Aku tak mengerti!”
Aku juga tak memahaminya. Dalam sekejap, karena kelemahanku aku kehilangan Nama Yang Keseratus, patung yang kucintai dan penghormatan dari sang Chevalier. Aku bahkan memiliki lebih banyak alasan untuk mengeluh dibanding kemenakanku. Namun, entah bagaimana aku mempertahankan diriku.
”Apa yang bisa kukatakan? Itu sudah terjadi! Aku tak punya pilihan! Lagipula ia adalah utusan Raja Perancis!”
Kemenakanku yang malang terisak-isak seperti anak kecil. Aku merengkuhnya ke bahuku.
”Tenanglah! Itu hanya buku palsu, seperti yang kau dan aku ketahui”.
Ia melepaskan diri dari rangkulanku.
”Jika itu buku palsu, kita sudah melakukan penipuan karena menjual padanya dengan harga setinggi itu. Dan andai ada keajaiban bahwa buku itu tidak palsu, kita seharusnya tidak boleh berpisah dengannya demi seluruh emas di dunia ini sekalipun! Siapa yang menjualnya kepada Paman?”
”Si tua Idriss”.
”Idriss? Seharga berapa?”
”Ia memberikannya cuma-cuma padaku”.
”Kalau demikian, ia pasti tidak bermaksud agar Paman menjualnya”.
”Bahkan tidak untuk 1.500 maidin? Dengan uang tunai sebanyak itu ia bisa membeli sebuah rumah, baju-baju baru,menyewa seorang pelayan, bahkan mungkin bisa menikah”
Boumeh tampaknya tak ingin tertawa. Ia jarang tertawa.
”Jika aku memahami Paman dengan benar, Paman berniat memberikan semua uang ini pada Idriss”
”Ya...,bahkan tanpa menyimpannya terlebih dulu dalam kas kita”
Aku bangkit, memasukkan semua kepingan uang itu ke dalam dompet kulit, dan meninggalkan rumah.
Saat aku mendorong pintu gubuknya, aku menemukan seorang tetangga sedang duduk di ambang pintu dengan wajah terbenam dalam kedua tangannya. Sebelum aku masuk, aku menanyakan apakah Haji Idriss ada di rumah. Perempuan itu mendongak dan mengatakan sepatah kata.
”Twaffa”.
Ia sudah tiada!.
***
Demikian sepenggal novel Balthasar’s Odyssey, Nama Tuhan yang Keseratus. Penulis Amin Maalouf menggambarkan lewat tokoh Balthasar, pedagang buku dan barang antik ternama dari Genoa pergulatan jiwa, faham, norma baik dirinya maupun masyarakat sekitar abad ke 17 yang kala itu resah dengan ramalan kiamat dan datangnya Dajjal.
Karakter Balthasar oleh penulis dikesankan sangat menjaga image sebagai bangsawan terhormat, baik pada semua orang terutama pelanggannya. Meski seringkali tidak setulusnya. Dia sangat mementingkan anggapan orang atas dirinya sehingga malah sering menyulitkan dirinya sendiri terutama ketika dia ternyata menyukai Marta, wanita yang menjanda karena ditinggal suaminya pergi entah kemana. Ketidak mampuannya menjaga kelurusan pikir dan sikap menempatkannya dalam banyak masalah. Kaitan karakter-karakter tokohnya, aksi- reaksi kejadian yang terjadi, kecerobohan yang dibuat semua dibangun menyatu oleh penulis Amin Maalouf dengan lancar dan wajar. Sehingga mengalir sebuah kisah petualangan, liku-liku cinta, serta penjelajahan separuh dunia demi mencari buku berkekuatan magis yang konon dapat menyelamatkan bumi dari kiamat.
Bagi saya yang menarik adalah bagaimana sikap mental, cara pandang serta ”hadirnya” kesadaran seseorang sangat menentukan ”petualangan” kehidupan yang dijalaninya. Sikap yang tidak tulus membawa pada dilema, anggapan bisa menjebak, kepura-puraan malah menyiksa dan lain-lain. Disini penulis mampu menuliskan rentetan logis kejadian dari keputusan yang diambil tokoh-tokohnya, meski keputusan tersebut tidak selalu logis menjadi satu bangunan utuh cerita.
Secara umum buku ini tentang petualangan mencari buku magis melewati berbagai benua dengan beragam agama dan peradaban, liku cinta, serta kronik sejarah. Saya menganggapnya petualangan Balthasar untuk mengenali dirinya dan menemukan cinta sejatinya. Dan apapun itu, kedua bentuk tersebut tidak membosankan untuk buku setebal 600 halaman.