a Joyful Path to AWARENESS 
 
 
 
 
 
NEW !!!
Home
Newsflash
About Bening
FAQs
Contact Us
Search
Links
Feedbacks
Google
We have 2 guests online
Visitors: 151913
Home arrow Reflections & Prayers arrow Bahasa Indonesia arrow SKEPTIS & SINIS

SKEPTIS & SINIS PDF Print E-mail
Reflections and Prayers in Bahasa Indonesia
Monday, 22 December 2008

Renungan akhir tahun liga administrator bening.org

Bulan ini, Desember 2008, genap satu tahun bening.org on the web. Kami bangga dan bersyukur. Bangga karena menjaga kelangsungan sebuah situs yang mengutamakan ekspresi semiotik di atas prinsip-prinsip pemberitaan bukanlah hal yang ringan dan mudah; bangga karena semua itu membutuhkan keluangan dalam berbagai aspek dan kami memenuhinya; bangga karena intensi-intensi semiotikal yang simbolis dan logo-terapis sungguh mendapatkan banyak feedback yang sangat berharga; bangga karena semiotika yang awalnya kami ragukan secara skeptis –tapi tanpa perlu sinis— akan mengangkat informasi ke wilayah netral yang lebih sublim ternyata sungguh mampu dengan sangat efektifnya. Dan kami bersyukur Tuhan mendampingi kami dalam semua kerja ini.

Situs ini dibuat dengan dua tujuan yang sederhana, yang satu terkesan agak serius, sedangkan satu lagi justru agak lucu. Kita bahas dulu yang agak lucu itu.

Satu tujuan lucu (setidaknya sekarang terasa demikian) dari dibuatnya situs ini adalah sebagai tempat memasang AdSense unit, format iklan Google yang pernah populer pada pertengahan hingga akhir tahun 2007. Sekarang itu menjadi lucu karena sejak awal kami sadar bahwa tujuan kedua yang agak serius itu pasti langka pembaca. Akhirnya terbuktilah kelucuan itu. Sejak kali pertama AdSense unit dipasang, account admin #1 terblokir oleh kecurigaan pihak Google, sedangkan account admin #2 sampai tulisan ini dibuat menghasilkan tidak lebih dari US$19.

Memangnya, apa sih tujuan yang agak serius itu?

Ialah menyampaikan ajakan untuk melihat dan merefleksikan kebenaran-kebenaran pahit yang lebih sering kita endapkan, kita usahakan melupakannya, bahkan kita abaikan keberadaannya yang menyakitkan itu dengan secara sinis meminggirkannya. Sejak awal kami telah menggariskan itu kepada siapa pun yang mau menulis untuk situs ini. Apa pun substansinya, yang pertama harus disadari adalah kebenaran pahitnya.

Kami sebut itu pahit karena kita dalam perkembangan budaya kita, Indonesia khususnya, terbiasa kurang jantan dalam menghadapi kebenaran yang buruk rupa atau tidak manis rasanya. Sebagai contoh, coba lihat rubrik Homeschooling , kebanyakan responden yang telah kami terima pendapatnya secara umum menyatakan bahwa memang nyata kesadaran yang dapat dipetik dalam hal mendidik anak, tapi sungguh berat menerima kenyataan betapa orang tua sering memakai keberadaan sekolah formal sebagai pelarian dari tanggung jawab berat mendampingi anak. Atau dengan kata lain, melepaskan tanggung jawab itu dalam rupa yang (dianggap) bermanfaat sehingga tak terkesan lari dari tanggung jawab. Padahal salah satu pertanyaan mendasar kami belum terjawab oleh siapa pun hingga saat ini, yaitu: kalau para guru sekolah formal itu tidak bisa kita yakini integritas moralitasnya, mengapa kita orang tua masih mau mempercayakan buah hati kita ke orang-orang yang tidak kita kenali dengan baik itu. Atau, apakah anak-anak kita ternyata hanyalah keterpaksaan tanggung jawab yang harus kita pikul setelah menuai kenikmatan seksual hubungan suami-istri? Wallahu a’lam. Semoga para penulis rubrik Homeschooling segera menggarap tema itu.

Sebagai contoh lain, ketika penulis Romansa Stella membagikan sejarah hidupnya secara terbuka, banyak sekali suara sengau yang sampai ke keyboard admin, di antaranya mempertanyakan ‘apa tidak malu blak-blakan seperti itu?’ atau ‘apa kata orang-orang yang membacanya?’. Kami bukannya mengesampingkan keluhan-keluhan seperti itu, tapi kami para admin juga bukanlah barisan orang-orang konformis yang mengutamakan ‘demi terlihat baik di mata orang lain’ di atas kejujuran. Bagaimana pun kami sadar akan beragamnya tingkat kesadaran pembaca situs ini. Kami tetap meramu kadar kejujuran dan kebenaran itu supaya tetap melukai tanpa menghapus kesempatan pemulihannya.

Masih banyak lagi contoh tersedia, tapi cukuplah dua di atas itu menggambarkannya. Setiap kali kami menerima respon, baik yang enak maupun yang kurang sedap, kami selalu meminta responden untuk menuangkan pendapatnya itu secara tertulis sehingga dapat kami muat. Dapatkah Anda menduga hasilnya? Hingga kini belum satu pun melakukannya. Belum satu pun memanfaatkan hak jawabnya. Kami tentunya tidak bisa dan tidak akan memaksa. Kalaupun mereka melakukannya di situs mereka sendiri dengan sekadar memberikan link ke situs kami, tapi tanpa memberitahu kami soal itu, alias ‘mencela balik’ secara sembunyi tangan di balik punggung, tentunya kami tidak akan mempermasalahkannya. Bangsa ini memang masih muda dan penuh bencana. Semua itu adalah bagian dari pertumbuhan dan perkembangan mentalnya.

Situs ini menyediakan sedikit sekali rubrik yang ada kotak komentarnya. Demi muatan reflektif yang kami wajibkan menjiwai tulisan apa pun, kami memang tidak membuka diri terhadap komentar asal-asalan. Kami menunggu komentar tertulis yang matang, syukur-syukur semiotik, tapi yang semacam itu tidak pernah hadir. Kami percaya bahwa sepintar apa pun seseorang, setinggi apa pun derajat kecerdasannya, sebanyak apa pun ragam kecerdasannya, selama orang itu belum mampu menuangkannya secara tertulis, sesungguhnya karunia yang bertengger di kepalanya itu belumlah matang.

Kami pernah mendengar komentar pedas yang menghujat-hujat situs ini. Tapi setelah kami ketahui orangnya, kami justru tidak tahu harus bagaimana meresponnya. Orang itu –mestinya—sedang mengalami depresi berat. Setidaknya kami menduga begitu mengingat keadaannya yang suka mengurung diri di kamarnya dan ketika melontarkan hujatannya itu (kami percaya itu tak layak disebut kritik) dia sudah seminggu tidak mau mandi. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Wallahu a’lam.

Di antara para penulis sendiri juga kami dapati ada konflik-konflik internal diri mereka masing-masing. Kami maklumi itu. Seperti yang kami ungkap di pembukaan tulisan ini, menjaga kesinambungannya memang memerlukan keluangan dalam banyak aspek. Kami belum mampu membayar penulis. Dari situ bisa diraba bahwa untuk menjadi penulis di situs ini, setidaknya orang harus sudah mapan secara finansial dan setidaknya lagi, memiliki pemaknaan yang cukup tersadari atas segala pengalaman hidupnya. Pengalaman hidup mestinya memang selalu berharga, tapi untuk mampu membagikan keberhargaan itu, ternyata orang harus mampu juga membayar harga menyadarinya. Unik.

Untuk masa mendatang, setidaknya setahun ke depan, kami mencanangkan penaikan batas kadar semiotikal situs ini. Kami juga memilih batasan ekspresi yang lebih mengutamakan estetika dalam penuangan substansinya. Kami menghendaki ekspresi yang lebih subtle. Kami yakin, para penulis kami mampu mengakomodasinya.

Akhirnya kami berterima kasih kepada para penulis yang telah setia memberikan kontribusinya. Kami berharap, mereka yang karena suatu hambatan tertentu telah menjadi tidak aktif, segera memperoleh kemapanan-kemapanan yang dibutuhkannya untuk dapat kembali aktif menulis. Tidakkah indah berbagi intelektualitas itu?

Kami juga berterima kasih kepada diri-diri kami sendiri: admin #1 atas keteguhannya mengimani misteri, admin #2 atas kesetiaannya mengakomodasi setiap kontribusi di tengah kesibukannya, Mr. Rick Gandhoza atas kesetiannya menggembala hosting situs ini, Sdr. Waskito yang selalu tangguh memformulasikan aspek-aspek neurolinguistik situs ini, dan Sdr. Dama yang selalu jeli menyaring dan menguleni semua tulisan yang masuk menjadi bermuatan semiotik.

Terima kasih kepada barisan pendoa Bening.

Kami juga bersyukur kepada Tuhan atas semua pelajaran berharga ini. Bukan jurnalisme sastrawi (literary journalism) yang menjadi koridor kami, melainkan instalasi semiotik, itulah yang Tuhan kehendaki dari kami.

 
< Prev   Next >
 
 
Admins say:

Any comment?
Suggestion?
Or you want to share
just any idea
and post it in this site?
Write to
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
 
*****
You don't have to LOGIN
There's nothing precious.
 
*****
 





Lost Password?
No account yet? Register
sir-arthur-conan-doyle.jpg