Bukit Dago Utara adalah sekumpulan anak muda yang sangat narcistic logic. Maksudnya? Mereka menghargai apa pun berdasarkan logic-nya. Jika sesuatu tidak punya logic, dan karenanya tidak logical, maka sesuatu itu tak perlu dihargai karena dianggap tak bermartabat. Itu sebabnya rumput di halaman ‘rumah tua’ tidak pernah dirawat. Mengapa? Karena rumput itu tidak punya logic, tidak berharkat, tak perlu dihargai. ‘Rumah tua’ itu sendiri cenderung dibengkalaikan. Mengapa? Karena bentuknya yang aneh itu menjadi tanda bahwa ‘rumah tua’ itu tidak logical, dan karenanya tidak punya logic, dan karenanya tidak berharkat, tak perlu dihargai.
Bagaimana dengan wanita? (Saya tidak membicarakan pria di sini karena seluruh penghuni BDU mengimani bahwa semua pria di luar mereka adalah zombie-zombie yang tidak punya logic, tak perlu dianggap manusia, tak berharkat karena kemayathidupannya, tak perlu dihargai. Dan ini bukan main-main; mereka selalu bisa membuktikannya!) Wanita? Hmmm…. Hanya wanita yang kuliah di fakultas kedokteran dan yang sudah lulus jadi dokter yang logic, dan karenanya HARUS dihargai harkat dan martabatnya. Bagaimana dengan wanita-wanita di luar lingkungan akademik kedokteran? Mereka tak berbeda dari ‘rumah tua’ yang kami tinggali, atau rumput yang tumbuh liar di halamannya. Ah, masa? YA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Jawabnya. Dan kami punya tesis berkenaan dengan perkara itu.
Wanita-wanita yang masuk lingkungan akademik teknik adalah gila, sinting dan tersesat. Kalau mereka memang punya logic, mestinya masuk kedokteran, bukan teknik. Orang mungkin berkata bahwa di antara mereka ada yang pintar, cerdas, atau apa pun istilahnya. Tapi orang yang mengatakan demikian itu pasti bukan alumnus BDU, dan karenanya tergolong mereka yang tidak punya logic, alias zombie-zombie itu.
Wanita-wanita yang masuk lingkungan akademik sosial dan humaniora tentunya lebih sinting lagi. Mau masuk kedokteran jelas mustahil, mau masuk teknik kok tidak feminin, ya sudah masuk sosial atau humaniora saja, paling tidak dapat status sosial yang di mata inhabitants BDU adalah status sosial para zombie.
Saya ceritakan ini sebatas membagi kenyataan saja, bukan untuk membelanya ataupun mencemoohkannya. Kalau ada yang, setelah membaca uraian di atas, merasakan salah satu kemungkinan itu, saya pastikan bahwa orang itu zombie! Maunya berempati, tapi malah jadi keras hati. Hanya zombie yang begitu. Zombie tidak punya logic. Perilakunya tidak logical. Saya tidak perlu hormati.
-----
Sebagai pendatang (generasi penghuni kesekian dari belasan tahun ‘rumah itu’ dipakai turun-temurun oleh alumni SMA kami), saya mendapati iman narcistic logic itu telah matang. Saya konsekuen, right or wrong, it is my faith too! Tapi, mungkin karena usia hidup saya sedikit lebih tua dari rata-rata mereka, dan pengalaman hidup saya inshallah (insya Allah dalam dialek Mesir) lebih beragam dari kebanyakan mereka, bagaimana pun saya punya kebutuhan lain yang mengalahkan iman itu, yakni kebutuhan untuk mencinta.
Jangan dulu bayangkan yang indah-indah tentang kebutuhan mencinta itu. Hasrat saya mencinta cukup hina kok. Saya selalu punya ketertarikan dengan yang indah-indah, yang cantik-cantik. Dan begitu saya tertarik pada sesuatu atau seseorang yang indah atau cantik, saya cenderung berupaya mengintiminya sampai berpeluh dan berdarah. (Hati-hati membaca ungkapan terakhir tadi. Itu penuh muatan semiotik! Dan kalau Anda tidak tahu apa itu semiotika, Anda tidak logic.) Pendeknya, mau barang, binatang, manusia, bahkan Tuhan, sepanjang indah dan cantik (dan belakangan perkara indah dan cantik ini jadi multi-spektrum), pasti saya ingin miliki.
Saya tidak pernah mau menggauli barang / benda. Saya tidak segila itu, dan masih jauh dari psikosis yang bisa membuat saya bernafsu seksual kepada binatang. Tidak. Saya pernah mencoba ‘menggauli’ Tuhan tapi kecewa. Orgasmenya hanyalah ekstase tanpa letupan. Prosesnya utopis, tapi ujungnya miris. Gila apa? Sampai di puncak kok tidak muncrat!
Nah, akhirnya saya sampai kepada haqqul yakin bahwa hanya dengan sesama manusia yang tidak sejenis kelamin saya bisa mengalami cinta yang utuh, mengalami mencinta dan mencintai sepenuh jiwa dan raga. Bisa saling merindu ketika mata tak mampu memandangnya; bisa saling memuja ketika saling tahu keberadaannya; bisa saling berpeluh ketika tubuh saling merengkuh; bisa saling ngidu (=meludah, bahasa Surabaya) ketika bibir beradu; bisa saling menyatu ketika yang satu menyusup dan ditelan yang lain. Bukan menyelip seperti tangan menyelip di ketiak. Bukan. Saya tegaskan, menyusup, mendelep (=tenggelam, bahasa Surabaya), yang bukan hanya tak tampak lagi setelah tenggelam itu, tapi tenggelamnya juga sensual karena nyaris selalu diiringi oleh suara parau-harmonis yang membersitkan penyerahan dan penerimaan sekaligus. Saya berani bertanya kepada siapa pun yang merasa pernah menyatu dengan Tuhan, apakah pernah mengalami yang seperti itu? Saya mengalaminya berkali-kali, tentu saja tidak dengan Tuhan.
-----
Ke ‘rumah tua’ itu saya pernah beberapa kali membawa PSK (pekerja seks komersial) berusia 18 tahun, Santi namanya. Orangnya cantik, khas pasundan. Tampangnya mirip Kris Dayanti. Dalam beberapa kali saya ajak Santi ke ‘rumah tua’ itu, saya bercinta dengannya, totalnya entah berapa kali, tapi yang jelas semua kamar di rumah itu sudah kami pakai.
Pada kesempatan lain, saya pernah bawa pulang PSK lain, hunting-nya ditemani Husin (masih ingat dia, guys?). Kami bercinta di kamar Meti karena kamarnya yang selalu paling bersih.
Pada kesempatan lain lagi, saya juga pernah ajak ke rumah, seorang ibu muda keturunan Cina. Kami tidak sampai masuk ke rumah karena dia akhirnya sungkan mau masuk. Maka di depan pintu garasi reyot itu, di dalam mobil, kami bercinta. Tentu saja kami pengen tambah hingga akhirnya berangkat ke Lembang untuk cari kenyang di bawah perut.
Di luar ‘rumah tua’, jangan tanya. Saya ini dipuja semua wanita yang pernah mencicipi bercinta dengan saya, bahkan di kalangan PSK. Orang yang tidak tahu tabiat PSK pasti sulit memahaminya. Di pelukan saya mereka merintih ingin lebih lama lagi dan itu bukan masalah. Di libasan saya, mereka boleh melihat surga yang diharamkan atas mereka. Itu sebabnya saya punya prinsip dalam berurusan dengan PSK: “sekali ini kubayar kamu; setelahnya kaucari aku”; dan itu terjadi. Komunitas BDU pernah dikejutkan oleh kehadiran gadis belia yang mencari saya karena ingin saya nikahi. Syafik juga pernah heran ketika kami bersama keluar mencicipi PSK, dan prosesi saya bersama rekan PSK saya berlangsung lama. Well, kita layak nikmati dengan optimal ‘kan?
Saya bejat? Tentu! Dan saya tidak malu karena sebejat-bejatnya perilaku saya, saya punya komitmen yang tidak pernah saya khianati dalam berelasi dengan wanita. Saya selalu menghormati mereka. Selalu saya posisikan bahwa mereka mendapatkan semua diri saya, bukan sebaliknya. Biarlah dunia berprasangka, yang penting wanita-wanita itu tetap mendesah dan merengek manja.
Saya tidak takut berbuat dosa. Saya siap menanggung apa pun konsekuensinya karena saya mengimani bahwa rahasia Tuhan tidaklah sekerdil pemahaman manusia. Dan saya memang sungguh tanggung semua konsekuensi dari semua dosa yang telah saya lakukan. Hasil akhirnya, Tuhan makin mencintai saya! Tapi ingat, ini bukan berarti untuk makin dicintai Tuhan, kita harus berbuat dosa. Tidak! Yang saya mau sampaikan adalah soal konsistensi. Ketika saya menghindari dosa, itu karena saya memilihnya demikian, karena saya tidak suka hal berdosa itu, bukan karena saya takut.
Tersisa hanya satu dosa besar yang saya belum dan tidak pernah mau atau ingin lakukan: membunuh manusia lain. Mengapa? Karena semua dosa yang telah saya lakukan sepanjang hidup, dan segala konsekuensinya yang saya telah tanggung lunas sungguh menyadarkan saya hingga tuntas, betapa kehidupan ini sungguh indah dan penuh warna-warna jelita yang hingga kini dan saya yakin sampai kapan pun takkan membuat saya bosan. Eman deee…
-----
Sejak Syafik menjanjikan ke saya tulisannya, intuitively saya tahu bahwa itu bagus. Saya tidak tahu tentang apa tulisan itu, tapi saya yakin akan bagusnya. Saya tidak pernah meragukan intuisi pertama saya, seperti yang terjadi tiap kali saya melihat wanita yang harus saya puji; seperti tiap kali saya melihat gadis yang nantinya pasti bisa saya gauli; seperti saat saya berjumpa Lidya dan saya putuskan untuk memujanya, seperti saat saya berjumpa Baby dan berkata: “Kamu akan melahirkan anak perempuan yang istimewa dan luar biasa diberkati,” sambil membatin: ‘setelah kamu jadi istriku kelak,’ dan dia memang jadi istri saya; seperti ketika Stella memeluk saya setengah paksa dan dalam hati saya berkata: ‘kamu takkan terpisah dariku,’ dan sejak 7 tahun lalu dia menjadi adik angkat saya, dilegalkan dalam hukum sipil Perancis per 2 November lalu; seperti ketika saya tiba-tiba mengalihkan seluruh account keluarga ke listing tertentu di berbagai kesempatan di bursa-bursa dunia, dan kami menangguk untung berlipat ganda (bagi papa angkat saya, teriakan saya untuk ‘beli’ atau ‘jual’ sudah demikian kudus dan suci, karena akurasinya yang telah mencapai 94% per 9 Desember kemarin); seperti ketika saya melihat seorang biarawan berjubah dan tiba-tiba memutuskan akan membiara karena ada jawaban di sana yang harus saya ambil, dan memang sungguh saya dapatkan; seperti saat saya dikejutkan oleh akibat kesalahan bisnis yang Stella buat dan karenanya kami menanggung € 56 Mn (baca baik-baik itu: lima puluh enam juta euro!) yang harus dilunasi selambatnya dalam 4 bulan demi menghindari ancaman serius, tapi hati saya yakin itu akan teratasi, dan kami sungguh melunasinya setelah 3 bulan 21 hari; seperti…ah, masih banyak lagi.
Ketika masih di BDU, saya sudah menyadari adanya kecenderungan di teman-teman untuk menikmati kursi penonton. Saya tidak terlalu perdulikan itu meski saya mengalami sendiri betapa bermain aktif jauh lebih mengasyikkan daripada sekadar mengamati dan menganalisis. Setelah membaca tulisan Syafik, saya bersyukur bahwa dia akhirnya meninggalkan kursi penonton dan mulai menikmati permainannya. Saya berharap, mestinya teman-teman yang lain lagi, sesama alumnus BDU, tak berlama-lama jadi penonton. Terkadang saya menyesal mengapa dulu tidak meluangkan waktu untuk menyemangati bermain. Daripada terus-terusan mengomentari orang yang belajar naik sepeda, bukannya lebih asyik kalau kita juga belajar naik sepeda. Kelurusan logika itu baru menemukan jasadnya ketika diterapkan, dan baru meraih jiwanya ketika berbuat. Ya ‘kan?
Kalau kemudian Syafik bertanya ‘Where to go?’, ya terserah. Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya dengan maksud ingin tahu setelah ini saya mau ke mana dan ngapain, jawaban saya ya sederhana saja. Setelah ini, Pak Syafik, saya mau boyong keluarga saya pindah ke Perancis. Saya mau pulang ke rumah, ke keluarga saya, keluarga angkat yang kenyataannya saya rasakan lebih tulus bagi saya. Di sisi lain, saya juga punya tanggung jawab ke mereka, saya layak menggenapi janji saya kepada mereka yang selalu setia dan penuh hadir untuk saya. Saya sayang mereka semua: Baby, Nadya, Stella, mama, papa, oma, opa, dan seluruh kerabat dekat, bahkan staf kami yang tersebar di berbagai penjuru. Para staf itu pun sudah kami anggap dan perlakukan seperti anggota keluarga kami.
Keluarga, Pak Syafik, adalah penemuanku yang termutakhir. Salah satu buah dari disiplin keras selama membiara adalah kesadaran-kesadaran baru yang sangat ultimate tentang keluarga.
By the way, roller coaster? Ha ha ha! Nggak-lah! Masa seorang pendoa yang kemudian jadi jagoan main indeks saham lantas disebut aneh? Semua bisa dipelajari. Tapi ya itu tadi, percuma belajar kalau cuma untuk analisis. Ini menurutku lho!. Bagi orang lain, mungkin begitulah penghidupannya.
Mau tidak mau, Pak Syafik, aku memang harus menguasai cara itu untuk mencari nafkah. Stella itu belanjanya anjrit-anjritan, ha ha ha ha ha! “Gaji” rutinnya (dari likuid aja ya, belum menghitung yang dari solid) rata-rata € 225k atau sekitar 3,3 milyar rupiah per bulan, dan itu gak cukup! *) Lha terus, dia selalu minta tolong ke kakaknya yang ber-“gaji” rutin cuma € 500 (barusan naik dari € 400), atau sekitar 7,25 juta rupiah per bulan. Mana cukup?! Itu sebabnya aku harus selalu kerja keras, Pak Syafik. Istri dan anakku gak pernah minta banyak, tapi adikku itu ampun-ampunan kebutuhan dan keinginannya. But, itu bukan beban lho. Aku sayang dia apa adanya. Aku mau kok kerja keras untuk memenuhinya.
With love, especially love for your family, you can become a ‘superman’. Being a ‘superman’, just three hours a day, twice a week, is more than enough to provide everything your family need. Bukan soal susah atau gampang, bukan soal berat atau ringan, ini soal kita sayang mereka atau tidak.
-----
Sudahlah, yang penting kisah Syafik itu cukup menyumbangkan ketenangan bagi saya. Bagaimana pun, saya jadi penasaran dengan sosok Guru Spiritual yang diceritakannya. Saya suka perbuatannya, kampanyenya. Dia melakukan apa yang dulu saya ingin lakukan terhadap komunitas BDU, tapi tidak saya lakukan karena saya tidak punya cukup hati untuk itu. Siapa dia ya? Siapa dia, Pak Syafik? Kenalin dong!
Keteranagan *)
Untuk share 9 representative deputies kami di 9 kota (di 9 negara), dijatahkan per orang € 15k per bulan, total 9 x € 15k = € 135k per bulan. Belum lagi overhead rutin seperti pajak, listrik, air, telepon, internet, asuransi, dan lain-lain. Belum belanja pribadi Stella. Jumlah € 225k memang jauh dari cukup. Tapi, karena formally kami sudah pensiun, kami mencari tambahannya di bursa-bursa global. Dengan basis account yang memang teramat lumayan, kami bisa 'bermain' dengan leluasa dan gembira sehingga akhirnya jadi rekreasi juga.