Kedua, kali ini saya akan bagikan permenungan saya atas sebuah nama yang sangat menarik perhatian saya itu: Satria Duta Cahaya. Dan khusus bagi Jiwa Muda yang baru saja terlahir dalam naungan Cahaya itu, saya sajikan refleksi ini sebagai ‘kado selamat datang’.
---
Setiap kali mendengar sebuah nama, khususnya pada kali pertama saya mendengarnya, saya terbiasa untuk segera mencari “titik-titik tumpu”-nya hingga korelasi segala aspeknya sepanjang pengetahuan terbatas saya, khususnya dalam aspek psikofonetik (aspek bunyi dan ragam dampak psikisnya) dan psikosemantik (aspek makna dan ragam dampak psikisnya). Demikian pula ketika saya mendengar nama itu, Satria Duta Cahaya, refleks pencarian dan pengolahan saya segera bekerja, dan kali ini saya mendapati ada muatan menarik yang mungkin akan lebih baik bila tidak terlalu ditafsirkan. Tetapi, saya tetap bersemangat untuk berbagi sensasi positif yang terjadi pada saya berkenaan dengan nama itu.
Apalah arti sebuah nama?
Banyak orang tentunya telah sering mendengar frase yang sangat populer ini: Apalah arti sebuah nama? Biasanya orang memakai ungkapan itu untuk merujuk pada tidak pentingnya makna yang dimuat sebuah nama. Padahal frase itu sebenarnya adalah terjemahan ngawur dari selarik kalimat dalam sebuah karya William Shakespeare yang aslinya berbunyi what’s in a name? Ngawur karena konteks terjemahannya melenceng.
Bagi saya, sebagaimana bagi Shakespeare, nama punya fungsi penting. Cukup dengan diri yang tenang dan jernih, tak perlu tahunan studi sastra, kita bisa sedikit menangkap gejolak signifikansi sebuah nama seperti yang dirasakan Shakespeare. Di larik kalimat berikutnya, Shakespeare menulis: Akankah kusebut mawar, segala yang merah dan semerbak wangi? Menarik, ‘kan? Harusnya frase ini yang lebih sip dijadikan kutipan kata-kata mutiara.
Demikianlah dengan putra Mas Aar – Mbak Lala yang unik ini. Tidak semua lelaki disebut satria; tidak semua satria mengemban tugas sebagai duta; dan tidak semua duta termandati oleh/untuk cahaya. Seturut kodratnya, nama menunjuk ke suatu pribadi secara unik dan distingtif. Boleh jadi di muka bumi ini, sepanjang sejarah manusia, ada banyak orang bernama Satria Duta Cahaya. Tetapi, bagi mereka yang mengenal Mas Aar dan Mbak Lala, tentunya tetap terasa keunikan Satria Duta Cahaya yang satu ini, yang tercatat di alam semesta sejak sembilan kurun sebelum hadir secara unik, di tempat unik, pada saat yang unik, menyela sebuah proses unik yang sedang dilangsungkan oleh seorang yang unik. (Nah, kalau Mas Aar membaca kalimat tadi, mungkin ia akan mulai manggut-manggut
).
Saya sudah lupa apa persisnya ragam makna yang dikandung kata ‘satria’, tapi kalau tidak salah, ada makna-makna seperti jujur, lurus hati, tepat kata. Saya sendiri punya pemaknaan terhadap kata itu. Bagi saya, ‘satria’ mengandung makna ‘keselarasan yang bermartabat’ (dignified harmony). Apa maksudnya?
Watak satria penuh dengan nilai-nilai luhur (virtues), di antaranya seperti yang tadi telah disebutkan: jujur, lurus hati, tepat kata. Semua nilai luhur itu, umumnya, ingin dihayati oleh semua orang, dan umumnya juga, kebanyakan orang yang berusaha menghayatinya mengalami kegagalan. Yang ingin jujur justru banyak berdusta, yang ingin lurus hati justru sering curang dan kebat-kebit hati, dan seterusnya. Mengapa? Sederhana saja. Kebanyakan orang berangkat menghayatinya lewat jalan yang rumit dan potensial menyesatkan. Seperti apa itu? Banyak macam dan rupanya, tapi semua berciri sama: penuh dengan batasan “tidak boleh ini” dan “harus itu”. Lalu adakah jalan penghayatan yang, sebaliknya, mudah dan berpotensi positif? Tentu ada. Sayangnya sudah lama dilupakan banyak orang. Jalan mudah itu adalah keselarasan (harmony).
Jika, dan hanya jika, kita berupaya mencapai dan menghidupi keselarasan, dengan dan terhadap apa pun, maka dengan sendirinya kita telah menjadi satria, lebih dari sekadar menjadi orang yang berwatak satria.
Memang, dalam upaya meraih dan menghidupi keselarasan itu, kita akan menghadapi dan menjalani berbagai rupa semu kegagalan. Saya sebut rupa semu, karena semua kegagalan itu adalah bagian dari keberhasilannya, bahkan menyempurnakan keberhasilan itu.
Mari saya beri contoh praktis yang mudah dipahami.
Kebanyakan kita, misalnya, diajari dan mengajarkan nilai-nilai luhur melalui apresiasi dan hukuman. Ketika bersikap dan berbuat baik, kita dipuji; ketika sebaliknya, kita dihukum. Saya tidak menyatakan bahwa cara itu salah. Saya hanya mau mengungkapkan secara jujur bahwa cara itu tidak genap korelasi esoteriknya. Orang yang dipuji akan sikap atau perbuatan baiknya belum tentu sadar akan kebaikannya sendiri. Demikian pula sebaliknya, orang yang dihukum atas sikap atau perbuatan buruknya belum tentu sadar akan kesalahannya sendiri. Boleh jadi ia tahu; mungkin ia mengerti; tetapi sadar…, jarang yang mampu.
Dalam diri setiap orang bersemayam jiwa yang senantiasa merdeka meski ia dipasung dengan sebuah sistem pembelenggu yang tercanggih. Tapi ada satu pihak, dan hanya satu pihak itu, yang mampu menghabisi kemerdekaan absolut sebuah jiwa? Siapakah pihak itu? Tuhan? Tunggu dulu, jangan keburu berburuk sangka kepada Tuhan hanya karena Ia Mahakuasa. Yang mampu menjajah dan membelenggu kemerdekaan jiwa seseorang adalah orang itu sendiri, yang menjadi tempat bersemayam jiwanya. Upaya meraih keselarasan adalah upaya untuk menundukkan diri sendiri dari dorongan dan hasrat untuk mencederai jiwanya sendiri. Orang yang melakukannya dengan sendirinya menjadi seorang satria karena itulah watak murni satria, itulah yang dilakukan secara konsisten dan kontinyu oles seorang satria.
Bagaimana dengan Satria Duta Cahaya, apakah ia yang baru lahir itu sudah bisa disebut seorang satria? Saya berkata, justru dalam keadaannya yang baru lahir itulah, ia masih seorang satria. Dari sudut pandang saya, “tugas” (kalaulah tepat itu disebut tugas) kedua orang tuanya bukanlah menumbuhkembangkan anak itu menjadi seorang satria, melainkan menjaga sedemikian rupa supaya anak itu tetap satria hingga lestarilah kesatriaannya. Dan soal istilah ‘tugas’, saya lebih suka melihatnya sebagai ‘hobi’. Hobi dipenuhi oleh hasrat-hasrat yang positif dan gembira.
Dalam hal Satria Duta Cahaya, pelestarian itu sungguh bernilai tidak biasa karena yang dilestarikan adalah kesatriaan seorang duta dari cahaya. Bagi banyak orang lain, mungkin nama Duta Cahaya itu tak lebih dari doa dan harapan orang tuanya supaya anak mereka kelak mencapai kelayakan menjadi duta dari cahaya, atau orang terhormat yang berbinar seperti cahaya. Bagi saya tidak semurah itu.
Dalam dunia simbolisme, cahaya atau terang acapkali merujuk kepada Tuhan. Ini bukannya tanpa dasar. Banyak orang menyebut Tuhan adalan kesunyataan. Saya sendiri menerimanya demikian, tapi tidak sepenuhnya. Bagi saya, Tuhan lebih besar dari kesunyataan, Tuhan melampaui batas-batas kesunyataan itu. Apa kiranya yang mampu melampaui kesunyataan? Puncak keterbatasan pengetahuan manusia, diwakili oleh fisika quantum, mendapati bahwa substansi entitas cahayalah yang mampu.
Seturut simbolisme, saya menganggap bahwa setiap manusia yang terlahir adalah representasi dari substansi entitas yang melampaui kesunyataan itu. Itulah keajaiban sebuah kelahiran, sebuah proses yang menjembatani Sang Cahaya untuk hadir dari kesunyataan menuju kenyataan.
Duta bukanlah sekadar utusan. Jika disebut A adalah duta dari B, maka A mewakili secara penuh semua aspek B meski A tidak sepenuhnya serupa dengan B. Demikian juga dengan semua orang dan segala sesuatu, semuanya mewakili secara penuh aspek cahaya meski tak serupa dengan cahaya. Saya tidak berharap setiap orang yang membaca ini akan mengerti, tapi saya tetap harus mengungkapkannya. Dalam segala sesuatu ada segala sesuatu, dan segala sesuatu menuju asal segala sesuatu.
Akhirnya saya mengajak semuanya saja untuk bersyukur atas kelahiran Satria Duta Cahaya; dan bersyukur atas kelahiran kita masing-masing. Dan bagi Mas Aar serta Mbak Lala, secara khusus dan profetik saya wasiatkan bahwa Satria Duta Cahaya diberkati dengan “keangkuhan” Sang Cahaya
. Anda berdua akan makin memahami ini dan melihat kenyataannya seiring bertumbuhkembangnya.
Hendaklah langit bersuka-cita, dan bumi bersorak-sorai, di hadapan wajah Tuhan, sebab ia sudah datang.