Sejauh ini, entah oleh siapa pada mulanya, dan entah bagaimana bisa tersepakati oleh khalayaknya, istilah homeschooling diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi ‘sekolah rumah'. Meski saya bukanlah ahli bahasa, seperti admin#2 yang sangat saya kasihi, saya tetap merasakan kejanggalan. Ada yang aneh dengan penerjemahan ini.
Penerjemahan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia tidak memutlakkan pentingnya bentuk yang berimbang satu-lawan-satu. Yang pertama-tama harus diupayakan adalah kesamaan dan kesepadanan konsepnya, bukan kemiripan bentuk luarnya atau makna harfiahnya. Jadi, jika titik tolak terpentingnya adalah kesamaan dan kesepadanan konsepnya, maka mau-tak-mau sebelum menerjemahkan sebuah istilah asing, kita selayaknya mencermati seluruh kandungan ragam kekayaan maknanya, baik denotatif maupun konotatif tanpa terlepas dari konteks penggunaan dan ketergunaan istilah itu di tempat / komunitas kelahirannya.
Istilah homeschooling adalah kata majemuk yang terdiri dari dua kata dasar berbeda jenis. Sementara home adalah kata asal, schooling adalah kata turunan dari school. Kini mari kita cermati satu per satu.
Secara harfiah, home dan house dapat dikatakan memiliki makna yang sama, ‘rumah’ atau ‘tempat tinggal’. Tetapi ketika digali lebih mendalam dan diamati lebih meluas, segeralah didapati kesenjangan kekayaan makna yang signifikan. “Berbeda” dengan house, home mengandung nuansa makna yang jauh lebih kaya dan emotif. Dalam konteks makna ‘rumah’ atau ‘tempat tinggal’, home membawa serta khazanah makna yang sangat kaya, beberapa di antaranya: tempat lahir, tempat asal, tempat tumbuh dan berkembang, tempat kembali, tempat mendapatkan rasa aman dan nyaman.
Dalam keseharian, kita dapat amati perbedaan perwujudan dari perbedaan kandungan makna tersebut. Sebagai contoh, kita dapat tinggal di banyak tempat, tapi mungkin hanya di satu atau beberapa tempat saja kita dapat tinggal dengan cukup rasa aman, cukup rasa nyaman, dengan cukup percaya diri. Atau, sebagai contoh lain, ada orang yang hobi traveling dan menghabiskan banyak waktunya melakukan perjalanan ke berbagai tempat, tapi ia selalu memulai perjalanan itu dari dan selalu kembali ke tempat atau rumah yang sama, tempat atau rumah yang homey baginya. Atau, sebagai contoh yang bermuatan lebih mendalam dan mungkin ironis, ada banyak orang yang meski memiliki tempat tinggal tetap ternyata home-nya ada di kantornya, atau di gereja, atau di masjid, atau di sekretariat klubnya, dan seterusnya. (Saya sendiri tergolong dalam contoh terakhir itu. Rumah saya di Jakarta, tapi rumah yang homey bagi saya adalah rumah keluarga besar saya di [Ville de] Marseille, Republik Perancis).
Beralih ke kata schooling, kata ini adalah turunan dari kata school. Sementara school mengacu ke makna institusi atau lembaga tempat berlangsungnya proses belajar dan pembelajaran, schooling merujuk ke makna aksi (acts) dan keberlangsungan (enduring) dari proses belajar dan pembelajaran itu sendiri. Jadi, school itu wahananya, sementara schooling itu prosesnya.
Sekadar intermezzo, saya juga dapati kandungan makna yang cukup menarik dalam kata school. Secara etimologi, kata ini berasal dari kata Yunani scholeion (σχολεῖον), yang berakar pada kata schole (σχολή). Mau tahu artinya yang sungguh-sungguh menarik dan menggelitik? Arti awalnya adalah spare time; leisure, alias ‘waktu luang’ atau ‘waktu senggang’ atau ‘saat bersantai’. Arti ini kemudian berkembang menjadi conversations of and for the knowledge during free time, alias perbincangan tentang dan untuk / demi ilmu pengetahuan yang dilakukan di waktu senggang / libur. Kalau kemudian kita tarik terus perkembangannya sampai ke realitas saat ini, menarik sekali, 'kan?
Kini, mari kita cermati homeschooling sebagai satu kesatuan istilah. Kata ini mengandungi makna ‘proses belajar dan pembelajaran, biasanya bagi anak-anak, yang berlangsung at home' (sengaja saya tuliskan kata aslinya untuk menegaskan bahwa wilayah artinya tidak terbatasi di rumah saja). Jadi, anak yang mengikuti homeschooling tidak menjalani proses schooling seperti yang dijalani di sekolah umum / publik maupun di sekolah privat (yang pada kenyataannya dapat diselenggarakan di rumah, misalnya dengan menyewa guru / pengajar untuk mengajar anak-anak di rumah).
Kembali ke pertanyaan awal yang mendasari topik tulisan ini, kalau kemudian dipertanyakan apakah homeschooling itu sama dengan sekolah (di) rumah, ada beberapa tahapan yang harus kita cermati dan sadari secara jujur dan rendah hati.
Pertama, persepsi, anggapan, dan prasangka kita tentang sekolah itu sendiri. Apakah sekolah itu bermakna sekolah umum seperti yang kebanyakan dari kita sering jalani semasa kecil dulu, atau semacam les privat, atau yang lain lagi, atau seperti yang selalu saya persepsikan bagi diri saya sendiri: sebuah proses belajar untuk menjadi lebih baik sehingga mampu menggapai hidup yang lebih baik (lihat tulisan saya sebelum ini, berjudul Belajar itu Apa Sih?)?
Kedua, tempat mana yang secara jujur dan rendah hati dapat kita rasakan dan akui sebagi home-nya anak-anak kita. Saya tak pernah mau memastikan bahwa tempat di mana seorang anak tinggal bersama orang tuanya adalah home-nya. Disebut rumahnya, bolehlah. Tapi, untuk disebut rumah yang homey bagi anak yang bersangkutan, tunggu dulu. Banyak dari anak Anda yang harus Anda teliti dulu secara jujur, rendah hati, dan empatik. Kenyataan menunjukkan bahwa ada banyak anak tidak homey di rumahnya sendiri, bahkan hidup dalam ketakutan terhadap orang tuanya sendiri.
Jika keragaman fakta itu mau terus diingkari, dan para orang tua tetap ngotot bahwa homeschooling adalah penyelenggaraan edukasi anaknya di rumahnya, sebenarnya model seperti itu lebih layak diistilahi sebagai ownhouseschooling, yang dapat dengan mudah diterjemahkan menjadi ‘sekolah di rumah sendiri’.
Saya dapati justru model ownhouseschooling inilah yang sebenarnya dilakukan banyak keluarga di Indonesia yang mengaku menerapkan homeschooling bagi anaknya. Saya sendiri memang belum menikah, tetapi saya sangat memahami perbedaannya. Bukti bahwa saya sangat memahaminya dapat saya tunjukkan lewat dua perkara. Pertama, saya sendiri adalah “produk” homeschooling yang saya jalani sepanjang masa pendidikan dasar dan menengah. Mama saya sendiri yang membidani homeschooling saya (dengan dukungan teknis dan psikologis dari beberapa collège di Perancis). Dalam homeschooling yang saya jalani dulu, yang terjadi (jika saya lihat dengan sudut pandang saya saat ini) adalah proses saling belajar. Mama saya selalu "hadir" bagi saya tidak hanya badan dan pemikirannya saja, melainkan juga dengan jiwa dan cintanya. Dari mana saya tahu? Mudah saja. Mama saya selalu mau jadi pendengar dan pengamat yang sabar dan telaten. Sensasinya bagi saya: rasa aman, nyaman, tenteram, dan keyakinan kuat bahwa saya memang sungguh diperhatikan dan disayangi.
Kedua, lewat tulisan ini, saya –yang Agustus nanti akan berulang tahun ke-27—mampu me-recall, mengenali, meresapi kembali, dan kemudian mengungkapkannya secara deskriptif, banyak kenangan sensasi yang dulu ketika saya masih kecil hanya dapat saya rasakan dan tak bisa saya ungkapkan. Bagi saya, itu bukan karena saya cerdas, meski berbagai psikotes menyatakan saya memang cerdas; bukan pula karena dukungan informasi, metode dan pendampingan yang memang qualified dari beberapa collège di Perancis tadi. Bukan. Yang saya yakini, efektifnya homeschooling yang dulu saya jalani adalah karena begitu besar dan luar biasanya kasih sayang dan perhatian yang saya terima dari kedua orang tua saya.
Dari semua pengalaman dan pengamatan saya terhadap homeschooling, saya dapat sarankan dua hal penting kepada para orang tua yang berniat menyelenggarakan homeschooling bagi anaknya. Pertama, sebelum sibuk atau bingung mempersiapkan berbagai pengetahuan dan fasilitas, pastikan bahwa Anda memiliki cinta yang selalu meluap bagi anak Anda. Tak perlu terlalu risau dengan persoalan pengetahuan dan fasilitas. Saya tak pernah mendalami psikologi, selain psikologi bisnis, tapi saya yakin riset psikologis mempercayai bahwa optimalnya pemenuhan kebutuhan afektif anak berpengaruh sangat signifikan terhadap perkembangan kognitif dan mentalnya, bahkan mungkin juga berdampak pada pertumbuhan fisiologisnya. Secara gampang dapat saya yakini bahwa anak yang berlimpah kasih sayang tapi miskin fasilitas akan tetap mengungguli anak yang berlimpah fasilitas tapi miskin kasih sayang.
Lalu saran saya yang kedua, dan rasanya ini mengandaikan saran yang pertama sudah terpenuhi, pastikan bahwa Anda sungguh sudah mengenali, atau minimal mulai mengenali, tempat mana saja yang bagi anak Anda merupakan home-nya. Dan jika Anda sungguh-sudah-selalu mencintai anak Anda, pasti home utama anak Anda adalah rumah Anda sendiri. Dengan mengenali wilayah mana saja yang merupakan home sekunder anak, Anda dapat merancang program homeschooling yang kaya variasi, misalnya sambil bermain di pusat rekreasi, sambil berlibur ke pantai, sambil field-trip ke instansi tertentu.
Jika tidak demikian, maka homeschooling yang Anda selenggarakan takkan berbeda dengan sekolah-sekolah umum, kecuali bahwa di rumah, Andalah yang jadi guru sekaligus kepala sekolahnya. Tinggal tambah lonceng saja, ‘kan? Teng-teng-teng, ayo belajar; teng-teng-teng, ayo menggambar; teng-teng-teng, ayo berolahraga. Lalu anak Anda, sekali waktu akan bertanya: “Mama, EBTARUM (Evaluasi Belajar Tingkat Rumah)-nya kapan?”
Penutup:
Selesai sudah edisi revisi ini, mon amour perpétuel. Jangan katakan ini bagus. Jangan katakan ini cantik, atau bahkan jelita. Aku mau kamu katakan yang lebih dari itu. Aku mau kamu katakan semacam: “Nah, ini baru Stella-ku!”
Kata yang kugarisbawahi itu yang wajib ada, tak boleh diubah. Yang lain boleh variatif.