by Stella Pengantar: Admin#2 situs ini menghubungi saya, kemarin, meminta saya menulis untuk rubrik Homeschooling. Topik yang diajukannya adalah: "belajar itu apa sih?", sebuah topik yang cukup menggilitik saya.
Tantangan terbesar yang segera menghadang saya, seperti biasa, adalah ejaan. Admin#2 (yang tersayang, eh-em!) menegaskan bahwa kali ini ejaannya harus baku dan formal. Aduh, itu sungguh tidak ringan buat saya. Untuk penulisan di rubrik-rubrik lain yang lebih casual saja saya sudah pontang-panting, apalagi yang ini harus baku dan formal. Tapi baiklah, saya coba. Semoga cukup kontributif bagi pendewasaan dunia pendidikan kita.
Belajar itu apa sih? Saya yakin pertanyaan ini jarang timbul di benak para orangtua yang anaknya telah mulai memasuki usia belajar / sekolah. Kalaupun muncul, biasanya secara otomatis (mungkin itu akibat terlalu lama menjalani "indoktrinasi kultural") muncul juga jawaban-jawaban yang kemungkinan besar mereka tidak sungguh-sungguh mengerti atau sadari, misalnya: belajar = pergi ke sekolah, menyimak pelajaran yang disampaikan guru di bagian depan kelas, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, mengulanginya lagi di rumah (seringkali pada jam-jam yang telah ditentukan), dan seterusnya, entah apa lagi.
Sering saya melihat dan mendengar orangtua menegur anaknya yang sedang asyik menonton televisi dengan teguran seperti 'kok nonton terus, ayo belajar'; bahkan sering terlihat dan terdengar orangtua menjadikan belajar dalih untuk menghentikan aktivitas lain yang sedang dilakukan anak. Padahal, belum tentu orangtua tadi sungguh memahami apa itu belajar; dan yang saya sungguh sesalkan, perlakuan-perlakuan tidak simpatik seperti itu justru menumbuhkan kesan negatif dalam diri anak. Kata 'belajar' langsung merujuk pada nuansa jelek, terlarang, tidak disukai, dan sebagainya.
Sepanjang yang saya mampu renungkan (saya paling malas searching referensi, lebih baik merenung saja, dan rasanya itu lebih sesuai dengan gaya bening.org), belajar adalah 'gerak yang hidup' (dunia psikologi mungkin menyebutnya perilaku, tapi saya tidak terlalu menyepakatinya, mengingat cakupan pengamatan yang menjadi dasarnya kurang luas); belajar adalah pencerapan, sebuah proses akuisisi-pengolahan-pengembangan yang berkesinambungan secara terus-menerus, progresif, interaktif, dan komprehensif. Orang yang sedang belajar adalah orang yang sedang mencerap. Apa saja yang dicerap? Apapun. Saya dapati proses pencerapan ini bergerak oleh dorongan yang beragam, bisa instingtif, intuitif, maupun intelektual. Proses belajar dapat menyentuh ranah kognitif, ranah emotif, dan ranah psikomotorik. Karena itulah, belajar tidak hanya berkorelasi dengan penambahan pengetahuan; dan tentu saja proses belajar berinteraksi secara abadi dengan pengalaman belajar yang sebelumnya.
Melaui 'gerak yang hidup' ini, kita sepanjang hayat mencerap-mengolah-mengembangkan banyak hal, seperti pengetahuan, keterampilan, pemahanan, nilai, norma, tata krama, kebijaksanaan. Semua buah belajar itu sering kita sebut sebagai pengalaman, atau kita sering menyebut pengalaman sebagai pelajaran. Mungkin dari kenyataan itulah lahir ungkapan 'pengalaman adalah guru terbaik'. Dan jangan lupa, tiap pengalaman yang merupakan hasil belajar itu adalah juga bahan baru untuk proses belajar itu sendiri. Sebuah kesinambungan yang sangat menarik, bukan?
Lalu, untuk apa belajar itu? Jawaban saya sederhana saja: untuk hidup. Mungkin Anda akan menyanggah, misalnya dengan menyatakan bahwa untuk hidup, orang harus makan, bukan belajar. Benarkah? Dari mana atau bagaimana orang tahu bahwa untuk hidup harus makan. Orang belajar dari megalami rasa lapar, yang walaupun bisa ditunda atau seolah diabaikan dengan --misalnya-- menyanyi, atau menari, atau bahkan bermeditasi, tetap saja solusi paling pragmatis atas desakan lapar adalah dengan memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya, mengunyah sesuatu itu dan menelannya. Dan dalam hal sesuatu yang menjadi solusi atas lapar itu, orang belajar bahwa tidak segala sesuatu bisa dimasukkan ke dalam mulutnya, atau dikunyahnya, atau ditelannya; dan pada akhirnya memang menghilangkan lapar. Mari kita renungkan, dari mana dan bagaimana kita mendapatkan pemahaman tentang lapar, makan, dan makanan? Dari belajar, bukan? Dan jika kita renungkan secara jujur, proses lapar-makan-makanan hanyalah setitik dari sebidang kehidupan.
Saya simpulkan, belajar adalah hidup itu sendiri. Bagi saya, prestasi belajar adalah prestasi hidup. Orang yang belajar akan mengalami hidupnya berubah menjadi lebih baik. Ukuran lebih baik --baik kualitatif, kuantitatif, abstrak, maupun kongkret-- ini sulit dijabarkan. Rasanya soal ukuran ini sudah masuk ke ranah yang --meminjam istilah admin#2, sahabat tersayang saya-- personal-unik-mistik. Sedikit sekali bagian ranahnya yang bisa diidentifikasi. Tapi, bagian-bagian yang dapat diamati itu cukup dapat diandalkan untuk dipakai sebagai dasar evaluasi. Jadi, secara mudah, jika kita mengalami hidup kita menjadi lebih baik, entah menurut ukuran apa, maka kita sudah belajar. Dan jika menginginkan hidup yang lebih baik lagi, mari belajar lagi.
Nah, jika anak Anda bertanya: "Belajar itu apa sih?", mengapa tak Anda jawab: "Sesuatu yang kaulakukan supaya hidupmu jadi lebih baik."
Anda ragu apakah anak Anda akan mampu mengerti jawaban itu? Coba dulu, baru ambil kesimpulan. Dan jika ternyata terbukti bahwa anak Anda memang tidak memahaminya, atau jadi makin bingung; sebagai orangtua yang baik, tentunya Anda takkan segan meluangkan waktu untuk menjelaskannya kepada buah hati yang sangat Anda cintai. Bukankah dialog dalam cinta dan kasih sayang adalah salah satu proses belajar yang terindah? Penutup: Sampai di sini, saya jadi terpukau. Ternyata belajar itu sangat misterius dan bahkan mungkin mystical. Di sisi lain, pikiran dan perasaan saya sungguh terengah-engah menyelesaikan tulisan ini. Sempat terpikir oleh saya, mungkin memang ada "tujuan tersembunyi" dalam permintaan-menulis dari admin#2 (yang tersayang, eh-em!). Entahlah, tapi yang pasti, proses penulisan materi ini telah membuat saya belajar banyak hal baru.
|