|
Rabu dini hari, 26 Maret 2008
Badan agak segar habis mandi, apalagi baru 1 jam lalu selesai cangkruk-an dengan teman-teman Bening. Mau tidur belum ngantuk, akhirnya iseng ambil laptop sambil terngiang-ngiang istilah yang saya dapat waktu nonton pertandingan bola di TV dan tadi sempat terucap dalam cangkruk-an, “Master of Simplicity”.
Sejurus kemudian.... (hehe...), saya sudah ada di Google ngetik “Master of Simplicity”. Yang keluar di urutan pertama ternyata Laws of Simplicity –nya John Maeda. Tlusur, tlusur, tlusur, akhirnya keluarlah tulisan 10 “hukum” simplicity-nya sang pakar. Baca-baca sebentar, perhatian saya lalu terfokus pada hukum keempat yang berbunyi “LEARN” dengan jargon“knowledge makes everything simpler”. Memang “knowledge (should) make everything simpler”. Mestinya begitu, kudune ngono. Tapi nyatanya, yang sering saya rasakan kok semakin banyak tahu justru jadi tambah ruwet bin mbulet ya..
Pikiran akhirnya melayang ke pengalaman pribadi… Selesai sekolah dan dapat pengetahuan itu satu hal. Tapi menjelmakan pengetahuan menjadi perspektif “everything becomes simpler” adalah hal yang sama sekali berbeda. Yakinkah saya bahwa dengan pengetahuan yang saya dapat, segala hal menjadi lebih simpel? Entahlah. Apakah “kedalaman” pengetahuan yang saya dapat ini memang harus diuji dulu oleh waktu, sebelum mampu melihat segala sesuatu secara lebih simpel? Mungkin.
Saya jadi ingat cerita istri saya jaman dia kuliah dulu. Kalau pas diajar dosen senior, materi kuliah jadi gampang dipahami, menjelaskannya juga pakai bahasa yang mudah, dan jadinya “everything looks very simple”. Jauh beda dengan dosen-dosen muda yang baru selesai sekolah. Kalau mereka yang ngajar, semua konsep jadi (meminjam istilah Pak Koer) “ruwet, mbulet, ceket, pliket...” Kesannya canggih, tapi aplikasinya, embuh gak eruh. Bahasanya “melip” tapi malah bikin rasa percaya diri mahasiswanya “nyungsep”. Mungkin “kualitas” pengetahuan seseorang memang mutlak harus diuji lebih dulu oleh waktu. Di sinilah mungkin kata “senior” dan “yunior” menemukan maknanya.
Menjadi Master of Simplicity jelas tidak mudah dan butuh pengetahuan Dan untuk menguasai pengetahuan, kayaknya harus by process, harus sedikit-banyak punya modal patience, persistence, resilience, endurance, etc., etc., karena semuanya memang perlu waktu. Ungkapan sederhana ala Aa Gym bahwa dalam belajar kita perlu memakai rumus “P-H-A” alias “Pahami, Hayati, dan Amalkan” bisa jadi pas untuk soal ini. Mungkin, segala sesuatu-nya belum terasa simpel karena pemahamannya memang belum benar. Mending kalau sekedar salah paham, yang lebih parah kalau justru pahamnya yang salah.... Atau kalaupun pemahamannya sudah benar, penghayatannya mungkin belum sungguh-sungguh. Atau lebih jauh lagi, meski sudah dihayati, mungkin belum pernah diamalkan, sehingga keyakinan pun susah tumbuh.
Akhirnya saya pun ngantuk, dan dalam soal ini my knowledge truly makes it simpler. Kalau ngantuk berarti saya butuh tidur. Semoga esok hari saya masih diberi waktu dan kekuatan untuk benar-benar menghayati dan mengamalkan pengetahuan sehingga kelak saya benar-benar layak menyandang gelar M.Sc ...... alias Master of Simplicity.... Amin. |