|
Judul: EDENSOR [Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi]
Penulis: Andrea Hirata Penerbit: Bentang Salah satu yang terlihat sangat hidup di Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi adalah mozaik ingatan masa kecil dari tokoh utama sekaligus penulis buku ini, Andrea. Setiap hal memiliki memorinya sendiri – sendiri. Seperti saat Andrea harus menentukan arah kemana Ia dan Arai harus berjalan karena saat itu kompasnya ikut terampas oleh polisi di salah satu kota di Rusia. Saat itu Ia teringat kenangannya bersama Weh, seseorang dari masa lalunya, yang pernah mengajari bagaimana membaca rasi bintang yang sangat luas. Pun ketika Ia bertemu dengan Imam masjid di Austria yang berasal dari Afghanistan, dia teringat dengan tokoh di masjid kampungnya, Taikong Hamim. Seorang tokoh agama di kampungnya yang telah membuat dirinya harus mencari nama pengganti bagi dirinya sendiri.
Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi ini menyuguhkan kepada pembaca, salah satu bentuk mozaik pengalaman dari seorang Andrea Hirata. Kisah-kisah di dalamnya merupakan simpul-simpul kejadian yang pernah Ia alami. Pendidikan, kisah romantisme, serta penjelajahannya menjadi media bagi dirinya menjalani simpul kisah cintanya. Bagaimana keteguhannya mencari A-Ling kemudian dia harus rela menerima hasil dari keteguhannya itu. Kemudian bagaimana Ia tiba di Edensor, dalam sebuah perjalanan yang tidak direncanakan. Dan kejadian itu Ia jadikan simbol pertemuannya dengan A Ling. Di resensi terakhir dari buku ketiga ini saya ingin menampilkan mozaik dari pengarang yang Ia kisahkan. Ingatan tentang keinginannya telah membawa dirinya menemui hal-hal baru. Hal-hal baru yang menjadi media bagi Andrea untuk bertemu dengan simbol pertemuan dengan cintanya, A Ling. Dan sebagai penutup dari resensi buku ketiga ini saya tuliskan sebuah potongan kisah dari buku ini, ketika Andrea dan Arai dalam perjalanan pulang ke paris setelah selesai melakukan perjalanan sebagai backpacker,”….Tapi aku tetap merasa kesepian karena A Ling masih tak jelas rimbanya. Tak tahu lagi kemana mencarinya. Hanya dari novel kenangannya aku dapat menemukannya. Kubuka lagi novel lusuh itu, kubaca lagi keindahan desa khayalan Edensor untuk melipur rinduku. Jalan-jalan desa menanjak berliku-liku dihiasi deretan pohon oak, berselang-seling di antara jerejak anggur yang ditelantarkan. Lebah madu berdengung mengerubuti petunia. Daffodil dan asturia tumbuh sepanjang pagar peternakan, berdesakan di celah-celah bangku batu. Di belakang rumah penduduk tumpah ruah dedaunan warna oranye, mendayu-dayu karena belain angin. Lalu terbentang luas padang rumput, permukaannya ditebari awan-awan kapas… Demikian nyata gambaran Edensor di kepalaku, seakan dapat kucium semerbak daffodil dan astuaria yang menjalar sepanjang pagar peternakan itu, seakan dapat kusentuh hangatnya bangku-bangku batu yang disiram sinar matahari musim panas. Edensor telah menjadi sebuah bingkai dalam kepalaku. Dalam bingkai itu, aku menggambar gerbang desa Edensor berukir ayam jantan yang berputar seirama belaian angin. Di sisi kiri gerbang kulukis rumah-rumah penduduk. Di sisi kanannya kugambar pohon-pohon willow yang tumbuh di pekarangan." Penulis: Sinyo |