|
Sunday, 04 January 2009 |
|
photographed by heyley klein |
|
Read more...
|
|
|
Sunday, 04 January 2009 |
Diterjemahkan dan dipadankan dari “Manuel” karya Paulo Coelho. Mamat mengharuskan dirinya selalu sibuk. Kalau tidak begitu, dia akan merasa hidupnya tak bermakna; dia akan merasa membuang-buang waktu; dia akan merasa orang-orang tak membutuhkannya lagi; dia akan merasa tak seorang pun menginginkannya. Begitu bangun tidur, dia punya sederet tugas untuk dilakukan: menonton berita di televisi (sesuatu mungkin telah terjadi tadi malam); membaca koran (sesuatu mungkin telah terjadi kemarin); mengingatkan istrinya, jangan sampai anak-anak terlambat ke sekolah; mengendarai mobilnya, atau naik taxy, atau naik bis kota, sambil selalu berpikir keras, sesekali memandangi langit, melihat arlojinya, menelepon relasi dengan handphone-nya, memastikan bahwa semua orang bisa melihat bahwa dia memang orang penting, orang yang berguna bagi dunia. |
|
Read more...
|
|
|
Saturday, 03 January 2009 |
Untuk gambaran singkat microfinance, saya kutipkan saja dari tulisan Titus K. Kurniadi dalam Jurnal Ekonomi Rakyat: Ibu Sri (bukan nama sebenarnya), berumur sekitar 40 tahun, tinggal di desa Sragen (Jawa Tengah), adalah seorang pengusaha warung makan sederhana. Pada suatu hari terpaksa meminjam uang sejumlah Rp 1 juta dari pelepas uang (atau lebih dikenal sebagai rentenir). Tiap bulan dia harus membayar Rp 100.000, tetapi pinjaman tersebut tidak pernah lunas, sebab bunganya 10% sebulan. Jadi Rp 100.000 yang dia angsur selama ini hanya bunganya saja, sementara untuk pokoknya tidak pernah lunas. Kemudian atas ajakan kawannya, dia bergabung dalam suatu kelompok ibu-ibu para pengusaha mikro lainnya, yang lebih dikenal dengan istilah KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Setelah kelompoknya dipandang cukup solid, oleh pendampingnya diberi kesempatan untuk mulai meminjam ke Lembaga Keuangan Mikro, masing-masing Rp 1 juta. Oleh Ibu Sri pinjaman tersebut digunakan untuk membayar lunas semua hutangnya pada pelepas uang. Kemudian setiap bulannya Ibu Sri tetap membayar Rp 100.000 kepada kelompoknya, dan setelah 12 kali angsuran hutangnya dinyatakan lunas. Ibu Sri sangat bersyukur dan sejak itu penghasilannya meningkat dengan Rp 100.000 setiap bulannya, karena pinjamannya sudah lunas. |
|
Read more...
|
|
|
Friday, 02 January 2009 |
Nama lengkapnya, Diana Hapsari. Dia asli Jawa; putri tunggal dari orang tua yang asli Jogjakarta. Juni lalu dia berulang tahun ke-27, seumur dengan adik saya, Stella. Mereka bertemu di awal masa tiga tahun Stella tinggal di Jakarta. Saat itu Diana sedang kuliah akuntansi di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Sejak bertemu Diana, Stella langsung cocok dan mereka segera bersahabat. Stella memang penilai karakter yang sangat akurat. Awal 2000, masih kuliah, Diana langsung “dipaksa” adik saya menjadi sekretaris pribadinya. Tentu Diana mau karena dia memang butuh kerja sambilan untuk membiayai kuliah hidupnya di Jakarta. Dia memang ingin mandiri dan dengan demikian meringankan bebang orang tuanya. Tapi kemudian, dia sempat gentar mengetahui bahwa dia akan di-‘gaji’ US$1000 per bulan, dan lebih gentar lagi setelah mengatahui job description-nya yang segunung itu. Mungkin dia berpikir, kerja sambilan kok sesibuk itu, meski ‘gaji’-nya juga –kok— sebanyak itu (menurut ukurannya). |
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 1 - 9 of 155 |